Selasa, 19 Januari 2016

Kualitas Pribadi Ideal Seorang Da'i


Bismillah, cuma mau jadi pengingat aja, bahwa jauh sebelum muhammad dipilih menjadi rasul yang artinya punya kewajiban untuk mendakwahi kaumnya, muhammad telah disiapkan Allah dengan dididik menjadi seseorang dengan reputasi yang gemilang. Bahkan, selain memiliki 4 sifat utama seorang rasul, dari kaumnya yaitu orang-orang yang mengenalnya telah menggelarinya dengan sebutan Al Amin (yang terpercaya). Tentu itu bukanlah sebuah predikat yang mudah didapatkan, mengingat terkadang sengaja ataupun tidak kita menjadi kurang menjaga amanah dengan berbagai macam alasan, kadang beberapa dari kita bahkan mencari pembenaran dengan kalimat yaitu"Gpp, selama tujuannya baik." Padahal tujuan yang baik baru akan diterima kesempurnaan amalnya jika didertai dengan cara yang benar.

Oleh karena itu kecemerlangan reputasi Muhammad sudah tidak diragukan lagi. Melalui kecemerlangan reputasi pula salah satu dari Asabiqunal Awalun 'orang yang pertama masuk islam' ( Khadijah, Alibin Abu Thalib, Zaid bin Haritsah, dan Abu Bakar Ash Shidiq) menjalankan perintah Allah untuk berdakwah.... Dan terbukti ada 3 hal yang jika dimiliki seorang dai makaia akan lebih mudah untuk diterima. Reputasi yang dibangun atas 3 hal inilah yang menjadi penarik atas dakwah yang dibawa oleh Rasul dan para sahabatnya, nah apasih 3 hal ini? Yap 3 hal itu adalah:
1. Akhlak. Abu Bakar adalah seorang lelaki yang akrab dengan kaumnya, dicintai, dan disayangi.
2. Pengetahuan. Abu Bakar adalah seorang Quraisy yang paling mngerti atau tahu tentang nasab suku bangsa Quraisy serta masalah kebaikan atau keburukan yang ada pada suku ini.
3. Pekerjaan dan Status sosial. Abu Bakar dikenal sebagai pedagang yang memiliki akhlak mulia. Sering didatangi tokoh-tokoh kaumnya untuk dimintai pendapat mengenai banyak hal.

Maka, kualitas macam inilah yang kemudian perlu kita jadikan target saat kita sadar bahwa setiap muslim adalh da'i. Huft... susah yak, dari awal gw udah tau konsekuensi menjalankan islam ini. Tapi apa daya, gw inget banget waktu SMA secara gak sengaja di meja sekolah ada sebaris tulisan yang seinget gw begini bunyinya,"Jika Allah memutuskan untuk menjadi pelindungmu, maka siapakah yang mampu menghalangi jalanmu. Namun, jika Allah memilih mengabaikanmu, maka siapakah yang mampu jadi penolongmu?" Tulisan yang tertera pada secarik kertas seukuran stiker itu tetep teringat dalam kepala gw, Tentu kemudian hidup gw gak drastis kemudian mencari Allah atau sebagainya yang tampak heroik, enggak... gw menjalani hidup gw seperti biasa, mmmm... mungkin ada yang sedikit berubah dalam cara pandang gw, itu aja. Hahaha... Karena disaat ada orang yang mempercayai Al Qur'an karena kebenaran historik pada surat Ar Rum padahal kejadiannya beberapa tahun setelah ayat itu turun, atau disaat ada orang yang menyukai Al Qur'an karena keajaiban IPTEK yang terus terbukti padahal Al Quran turun 14 abad yang lalu, maka gw sesederhana menyukai Al Quran dimulai dari surat Al Fatihah. Surat yang semua orang hafal. Tapi buat gw, saat gw mengucapkan surat itu dengan sepenuh hati rasanya Allah sedang tersenyum, rasanya dipeluk, dituntun, disayang. Buat gw, segitu juga cukup.... Maka buat gw Allah-lah tempat perlindungan terbaik yang pernah gw rasa. Bukan karena gw disiksa kayak para sahabat yang super kece, nggak, gw sehat wal afiat. Hanya, kepala dan pikiran gw menjadi adem saat gw berpegang kepada Allah. Kemudian segala hal tentang dunia ini yang masih Allah rahasiakan terbuka sedikit demi sedikit. Jadi, saat Allah perintahkan buat berdakawah, yaudin gw sampaikan aja. Nah, setelah tau 3 hal tersebut maka demi memperoleh kasih sayang Allah gw sekarang melakukan uji coba terus menerus untuk bisa menjadi pribadi macem itu.


Senin, 18 Januari 2016

Disonansi Kognisi Muslim Hari Ini


Bismillah, finnaly gw online.. yeay... ekekeke...
hmmm. bahas apa yak...
Ada sebuah pertanyaan besar dalam hidup gw, "kenapa seringkali orang mengalami kondisi dimana perilakunya jauh dari pemahaman yang ia punya?" Ini bahkan hampir berlaku di semua disiplin ilmu bahkan hingga dalam hal beragama sekalipun. Hal ini dalam teori komunikasi disebut dengan teori disonansi kognisi. Festinger menjelaskan bahwa disonansi kognitif adalah diskrepansi atau kesenjangan yang terjadi antara dua elemen kognitif yang tidak konsisten, menciptakan ketidaknyamanan psikologis. Hal ini didukung oleh vaughan &Hogg (2005) yang menyatakan bahwa disonansi kognitif adalah suatu kondisi tidak nyaman dari tekanan psikologis ketika seseorang memiliki dua atau lebih kognisi (sejumlah informasi) yang tidak konsisten atau tidak sesuai satu sama lain.

Nah, apa sebenarnya yang menyebabkan kondisi tersebut terjadi?
Ingat, point utama yg menyebabkan disonansi kognitif adalah ada 2 kognisi yang tidak selaras yang kemudian menyebabkan orang tersebut mengalami tekanan. Festinger menyebutkan ada dua situasi umum yang menyebabkan munculnya disonansi, yaitu ketika terjadi peristiwa atau informasi baru dan ketika sebuah opini atau keputusan harus dibuat di mana kognisi dan tindakan yang dilakukan berbeda dengan opini atau pengetahuan yang mengarahkan ke tindakan lain. Lebih lanjut Festinger (1957) menyebutkan empat sumber disonansi dari situasi tersebut, yaitu:
a. Inkonsistensi logika
b. Nilai budaya
c. Opini umum
d. Pengalaman masa lalu

Tapi kali ini gw akan menyempitkan pembahasannya dalam kondisi beribadah seseorang khususnya yang beragama Islam saja. Menurut gw kondisi inilah yang digambarkan oleh Abi Bilal dalam menuliskan muqadimah sebuah buku yang berjudul Komitmen Muslim Sejati dengan kalimat, "... Anda lihat mereka (manusia muslim yang sekadar identitas-red) berada di satu lembah, sedangkan Islam berada di lembah yang lain."

Kemudian apakah yang bisa menghubungkan seseorang sehingga tercipta seorang muslim yang berintegritas dalam perilaku dan nilai diri sebagai seorang muslim? Gimana caranya supaya gak merasa mengalami disonansi kognitif gitu? yaaah, minimal gak tertekan secara identitas diri, ekekeke...  Maka, ust. rahmat Abdullah menyampaikan dalam muqadimah yang dibuatnya untuk buku Manhaj Haraki karangan Syaikh Munir Muhammad Al Ghadban yang mampu menjadi "mata rantai yang menghubungkan mereka dengan Rasulullah, bahkan dengan nabi-nabi sebelumnya" yaitu dengan mempelajari dan mengkaji sirah nabawiyah ataupun sejarah islam berdasarkan wa'yu 'kesadaran ilmiah'. Dengan mempelajari sirah nabawiyah, maka ia pasti merupakan bagian integral dari ummatan wahidah. Ia akan mewarisi spirit masa lampau umat Islam yang sangat kaya dan menumbuhkan militansi. Karena itu putusnya mereka dengan sirah nabawiyah  membuat lemahnya ghirah dan ruhul jihad.

Beuh, berat yak bahasanya.... Ya namanya juga nyuplik buku, jadi bahasanya begono.... Kalo gw biasanya menjelaskannya begini, kenapa sih harus mempelajari sirah nabawiyah? Atau jauh sebelum mengenal itu, gw berpikir gini, "Kan semua manusia di muka bumi ini yang muslim paham yak, bahwa Allah menciptakan manusia dan Jin untuk beribadah.... Nah, ada kalimat lagi yang meneguhkan bahwa segala hal itu bisa bernilai ibadah buat orang Islam soalnya Islam kan agama yang sempurna, jadi bahasannya mencakup segala hal.... etapi kalo buka Al Quran doank, kan pusiang luar binasa, dan selalu muncul pertanyaan setiap dikasih pemahaman, trus gw kudu kumaha (gimana)? Nah, cara menjalankannya mau liat siapa lagi kalo bukan Rasulullah... jadi, kenape si yang disuruh berdakwah tuh gak malaikat aje, cem maunya orang kafir? Ya keleus, kalopun digituain jg gw pikir abis itu mereka ngeles, itu malaikat makannya bisa gitu, kita mah manusia, udah biar malaikat aja yg berjuang, malaikat gak tau kan betapa susahnya jadi manusia? Betapa beratnya hidup jadi manusia? dst.... Nah, menurut gw (inget yak ini menurut gw, jadi gw menyarankan cari referensi yang lebih oke dan terpercaya, maksudnya baca sendiri Al Quran, manhaj haraki, tafsir, dll) inilah salah satu kenapa yg diperintahkan untuk jadi rasulullah predikat teragung termulia, ngalahin Malaikat, Raja, Ratu, Presiden, Perdana Mentri, Ibu, Bapak, dll. harus dari manusia. Iya, supaya kita bisa menirunya. Toh sama-sama manusia, jadi kita gak akan terkendala banyak masalah indrawi yang udah pada taulah ya, kalo kualitas indra manusia itu sangat terbatas. Jadi enak tuh, mau nanya apa bisa ditulis, sampaikan, wariskan. Dan serunya khusus Al Qur'an jaminan mutunya terjaga dan dijamin langsung sama Allah, nah.... kurang terpercaya apalagi coba? Yah, kalo gak percaya berarti gak mengimani rukun islam dengan sempurna, gitu aja.... Dan you know what? reputasi macam apa yang diperlukan untuk jadi periwayat hadits? Udah gak usah bayangin, berat coooy.... verivikasi kualitas personal ngalahin audit buat jadi ketua KPK pokoknya. Udah gitu meski super terpercaya. Seandainya kalo riwayat hadits doi terbukti bertentangan dengan Al Qur'an, maap-maap aje... hadits ngana (kamu) ditolak mentah-mentah. Kenapa Al Al Qur'an yang jadi alat verivikasi hadits? Ya karena Rasulullah gak mungkin melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perintah Allah yang tertera di Al Qur'an. Dan Al Qur'an terjamin keasliannya.

Dengan begitu, saat kita melakukan sesuatu kita punya tuh referensi, kira-kira Allah sukanya saya harus gimana ya? Trus Rasulullah nyontohin buat ngadepin kondisi kayak gini gimana yak? Orang-orang jaman itu kondisi kayak apa? Kira-kira orang-orang yang dijamin masuk surga kaya gimana ya? Berarti standar masuk surga ya kayak gitu. Nah, gimana kalo gak baca sirah nabawiyah? Maka orang tersebut tidak akan mendapatkan tsabat. Sebab, doi tidak berada dalam suatu gelombang dengan rasulullah dan para sahabatnya. Kalo diumpamakan sirah ini sebagai satu sender (pesawat pemancar) siarannya akan ditangkap baik apabila kita memasang gelombang yang sama di receiver (pesawat penerima).

Nah, jadi gak terjadi lagi kondisi bingung dan tertekan yang disebabkan oleh 2 kognisi. Karena dengan mengetahui bagaimana Rasulullah menjalani hari-harinya kita udah tau diantara 2 kognisi itu mana yang bisa mengantarkan kita kepada Allah, yang lebih aman, dan lebih terjamin keberhasilannya dan harus sesuai dengan kognisi utama identitas kita sebagai muslim, sehingga cuma ada 1 kognisi utama dan memposisikan kognisi yang lain pada tempatnya. Karena kalo kata Dr. Yusuf Al Qardhawy dalam buku fiqh negara "Bukanlah orang cerdas yang hanya tahu membedakan antara kebaikan dan kejahatan. Tapi, orang yang cerdas adalah orang yang tahu membedakan antara yang lebih baik dari yang baik dan yang jahat dengan yang lebih jahat."

Yah, kalo jaman sekarang udah jauh terpisah dari pemahaman sejarah rasulullah wajar aja banyak orang desperate yang bilang, "gw udah gak bisa bedain lagi mana yang baik dan yang buruk." boro2bedain mana yang lebih baik dari yang yang baik dan yang jahat dengan yang lebih jahat. ekekekeke.... Dilanjut nanti ya gaaan.... segini dulu aje.... see yaaa....

Senin, 21 Desember 2015

Who Am I?

Ema Analisia Rostiana pernah bertanya, "aku penasaran kayak apa orang yang mampu mengubah dirimu jadi kayak sekarang..."
Dwi Noviyanti pernah bilang kekurangan gw: "terlalu cuek, kurang basa basi, kalo yang gak kenal mungkin jadi gampang tersinggung, bossy, saat berdebat sangat persistent, kalo berubah (tampilan/prinsip) sangat revolusioner (bagus sih, tapi orang awam akan berpikir ini orang terpengaruh apa/aliran apa)...."
Gw pernah bingung, "apa itu baik, sudah baikkah gw?"
Dan, Sugih Maulana pernah bilang, "Siapa yang bisa bilang apa itu baik, dan menilai apakah seseorang itu baik atau nggak, daripada mencemaskan sudah baikkah kita, lebih baik pikirkan gimana caranya untuk jadi lebih baik."
Kemudian gw mencoba, karena amatir, gw melakukan kegagalan yang sangat merugikan teman-teman gw, kemudian Bicky menguatkan gw melalui sms, "gw percaya lu, meski lu melakukan kesalahan 1 ataupun seratus kali kesalahan sekalipun." (mungkin teh Sintamilia Rachmawatibisa mewakili ngemention, mengingat gw diunfriend karena suatu alasan, sebagai bentuk terimakasih gw.) Sedangkan Kasih Kisah mengatakan, jika Thomas Alfa Edison menyerah karena berkali-kali gagal mungkin kita gak akan pernah menikmati indahnya lampu menghiasi gelap.
Gw mencoba untuk bangkit lagi, memperbaiki diri lagi, bertanya, dan memutuskan untuk menjadikan hidup gw lebih berarti, hingga kemudian pada suatu malam setelah shalat isya, teh Hani Noor Ilahi Noor Ilahi bertanya kepada gw, "menurut kamu, politik itu buruk gak, jahat gak?" Dan aku menjawab dengan logika yang paling sederhana, "Jika politik itu buruk, tutup aja FISIP." Karena pikirku, jika mengatakan semua politik itu buruk, tentu tindakan yang pertama sebelum terjadi keburukan putus akar masalahnya sekalian, tutup aja FISIP sebelum mencetak penjahat, gak usah ada kuliah komunikasi politik, dst... Tapi toh, nyatanya kita masih membutuhkan, hanya perlu lebih cerdas untuk menggunakannya pada tempatnya dan sesuai takarannya.
Kemudian suatu ketika Daniel Rusyad Hamdanny pernah bertanya, "Buat apa kamu masuk BPM? Toh, malah dianggap buruk dan gak terlalu berguna dampaknya." Dan gw bilang, "Harus ada yang menyampaikan informasi tingkat universitas ke fakultas." Dan dia kembali bertanya, " Jadi, lo mau jadi pahlawan?" Gw gak menjawab, gw gak berpikir begitu, gw hanya berpikir, fikom butuh dan berhak memperoleh informasi univ.
Gw gagal menjadi penyampai informasi univ, gagal segagal-gagalnya, lagi, karena keberadaan gw di BPM bukanlah perwakilan secara konstitusi dari Senat masa itu, gw masuk lewat jalur kedua yaitu meminta dukungan via KTM teman-teman. Gw gagal, jatuh lagi, pusing bukan main....
Sugih bilang, setidaknya Alvi Rahmawati D'Aple bisa mengajarkan adik-adiknya apa itu politik. Maka itu misi gw selanjutnya. Maka peran gw di BPM waktu itu adalah mempelajari apa fungsi lembaga-lembaga politik itu, laporan dan informasi aku serahkan kepada senat, atau kalo ditolak aku tempel di mading-mading meski entah bagaimana tempelan di mading itu rusak atau hilang dalam hitungan jam.
Gw lelah, gw bingung, dan Nurida Sari Dewi bilang ke gw, "Setiap cobaan yang menghadang kita sejatinya adalah sekolah kehidupan dari Allah karena Allah ingin bertemu kita dalam kondisi mulia." Maka gw kemudian mencoba memaknai apa itu"MULIA" suatu kata yang gw tau kata itu ada, tapi gak pernah gw pikirkan maknanya lebih lanjut.
Ditahun berikutnya, gw ingin membayar "hutang" gw yang kacau balau terhadap univ ataupun fakultas, gw bertanya ke Kantry Maharani hubeks waktu itu, "ajari gw, apa yang bisa gw bantu." Dan payahnya, bukannya ngebantu aku malah bikin geger temen-temen se BEM, saking merasa bersalahnya, aku bilang ke kang Ali Akbar Mutiara , "gw gak apa-apa kalo harus datang kongres dan mengakui kesalahan gw meski pinalti konstitusi mahasiswa bisa mengenai gw." Kata kang Ali, ah Alvi lebay, tenang aja, udah beres masalahnya.... udah dijelasin duduk perkaranya dan cuma salah paham."
Gak berasa ternyata kegiatan gw secara gak sadar membuat lingkungan sosial gw di jurusan di Fikom menjauh, entah karena isu yang aku gak tau, entah karena emang gak punya waktu buat duduk manis bareng kawan-kawan sejurusan ataupun seangkatan bahkan sepermainan, agak autis kayaknya gw emang. Gw sendiri, iya, gw sendiri, gw di titik yang aneh.... gw bingung, gw capek, dan gw sendiri.... Kemudian gw mulai memaknai apa itu hubungan, dan hubungan macam apa yang ingin gw bangun. Kali ini harus dengan BENAR. Maka gw menjadikan buku sebagai referensi gw, gw baca buku kuliah, gw baca nasihat ulama, gw baca berita, gw bertanya ke orang yang menurut gw kompeten dalam berbagai dimensi keilmuan maupun pengalaman, gw menjadi penanya sekaligus orang yang paling mempertanyakan realita. Al Urwatul Wutsqojadi korban pertanyaan-pertanyaan gw menurut gw, tapi karena dia cerdas dan nyaris Hafidzah (hafal Al Qur'an dan dari kecil dididik berpedoman Al Qur'an dengan segala ilmu amal sosialnya) maka dia bisa menjawab dengan super nyantai dan menyodorkan gw pilihan sudut pandang lewat buku-bukunya. Gak cuma dia, Nur Afifah yang emang terlahir dari seorang ibu yang sangat peduli dengan pendidikan dan punya semangat belajar tinggi, menyodorkan biografi orang-orang pembelajar sekaligus pendidik terbaik, dari Hellen Keller, sampai Torey Hayden.
Kemudian, hidup gw diisi dengan kondisi nyaris mustahil ada minggu-minggu yang gak gw gunakan untuk mendatangi undangan taklim maupun seminar, meskipun kegiatan tersebut yang mengadakan anak fakultas lain, univ bahkan kampus lain. Gak masalah. Kemudian gw menyusun segala informasi dalam otak gw berdasarkan jenis dan kualitas informasi, gw berusaha membedakan apa itu asumsi, apa itu judgement, mana opini, mana fakta, mana perintah Allah dan mana realita dimasyarakat.
Dan gw menemukan bahwa ada jurang yang tak terlihat dari kondisi ideal dan realita, juga banyaknya konflik yang sebenarnya sumber masalahnya adalah SALAH PAHAM yang dalam bahasa mahasiswanya sering juga disebut miss komunikasi, atau disingkat miskom. Mungkin, ini tugas terberat seorang Public Relations dalam makna falsafahnya, yah, semua yang masuk jurusan ini pasti tau, bahwa tugas utama ilmu Public Relations adalah menjadi JEMBATAN. Iya, jembatan yang menghubungkan berbagai pihak dan keadaan untuk disatukan dalam 1 titik temu sehingga dapat menciptakan kesepahaman (mutual understanding) sehingga posisi berdiri masing-masing pihak dapat dikenali dengan jelas, mana yang bisa diajak kerjasama, mana yang enggak, kapan bisa kerjasama, kapan enggak. Maka gw bertanya apa catatan-catatan untuk menentukan hal tersebut apa bentuk deskripsi dari apa dan kapan, juga kenapa. Akhirnya gw berpikir, untuk bisa menentukan posisi orang lain, maka harus jelas dulu dimana posisi gw berdiri, dan apa tujuan gw. Gw memilih, gw memutuskan, gw pindah ke lokasi paling "angker" (mengingat bahkan gak semua orang suka tinggal disana karena suasananya bikin gak nyaman karena gak bebas, terlalu banyak aturan. Ingat, penyebabnya adalah perasaan GAK BEBAS bukan GAK BENAR, sedang yang gw cari dari awal adalah KEBENARAN) maka resiko itu bukanlah kendala yang mampu menghentikan gw, gw hanya harus memegang teguh apa yang gw pahami yang gw anggap benar, kalo gw blom paham, siapa pun gak berhak memicingkan matanya melihat gw dengan tatapan merendahkan.
Entah bagaimana, mungkin juga karena kesalahan gw yang bertubi-tubi, disisi lain, saat gw mengharapkan penjelasan justru Allah meletakkan gw untuk gak beramanah sama sekali, proses pertukaran ilmu dan ukhuwah itu cacat, gak jalan, berbulan-bulan, bahkan nyaris 1 tahun. Mungkin, jika ada yang mengatakan kenapa memutuskan keluar dari lingkaran perbaikan maka gw adalah orang yang paling berhak melakukannya, gw kehilangan teman-teman terbaik gw pada waktu, gw gak punya amanah yang mungkin bisa mengisi kolom-kolom CV atau simbol-simbol popularitas dihadapan yang diinginkan sebagian orang, dan gw gak mendapatkan hak gw hingga berbulan-bulan lamanya meski gw udah melapor kesana kemari bahkan gw membuat keributan disebuah forum yang bertugas untuk memastikan setiap orang mendapatkan haknya. Gw gak peduli, yang gw tau, sekarang gw hidup cuma dengan mengandalkan diri gw sendiri, gw menciptakan semacam manajemen konstruksi nilai dalam otak gw dengan mencoba mengaplikasikan teori yang gw pahami, iya, gw bahkan melakukan teori agenda setting terhadap kaki, mata, telinga, dan tangan gw. Iya, gw melakukan dengan sangat sadar teori pertukaran nilai dalam hidup gw, dll. Dan semuanya dengan catatan gw hanya melakukan sesuatu yang emang gak bisa didebat bahwa hal itu baik! Bagusnya gw udah terlatih dari kecil melakukan hal ini meskipun waktu itu gw gak tau apa namanya, hahaha... bahkan waktu SMP aku menyebutnya sebagai self-brainwashing.
Tapi gw tetap membaca banyak hal, gw mendengar banyak hal, gw memperhatikan banyak hal. Hingga sampai titik gw bingung, sebenarnya buat apa gw sampai segininya. Toh gw gak akan menjadi lebih pintar dibanding mereka yang udah terdidik sejak kecil tentang hal-hal yang gw baca dan pelajari (Islam, Idealisme, Sejarah, dan Manusia). Hingga akhirnya gw meluruskan kembali niat, gw hanya ingin menjadi jembatan, gw ingin mengurangi konflik-konflik yang dasarnya sesepele kurangnya ilmu, emosional semata, apalagi miskom dan parahnya cuma berdasar prasangka. Maka gw gak peduli meski kualitas gw adalah no. 10 ataupun no. 100 gw gak peduli itu, gw hanya berharap, jika dalam satu waktu dibutuhkan 10 orang yang menjelaskan hal yang sama di sepuluh tempat maka gw bisa membantu, pun jika 100 orang di 100 tempat maka gw bisa turut serta menjelaskan. Semuanya demi mengurangi konflik yang gak diperlukan, dengan menjadi sebenar-benar jembatan, dengan misi berjuang hingga tak ada lagi fitnah di muka bumi ini, dan agama hanya untuk Allah.
Dan gw sekarang, masih sama, si bodoh ceroboh yang terus dikuatkan oleh orang-orang yang Allah hadirkan dalam hidup gw untuk melakukan suatu misi untuk mengajarkan gw memaknai kehidupan sampai waktu yang Allah tentukan. Dan yang paling berharga diantara mereka adalah orang-orang yang Allah pertemukan dalam usaha meningkatkan ketakwaan kepada-Nya, dan berpisah pun dalam misi yang sama.

Selasa, 16 Juni 2015

Yusuf Nada #Prison3


dakwatuna.com – Dia cerdas memahami pikiran dan bahasa orang. Dalam dunia yang penuh ambigu, kita semua beruntung jika memiliki penerjemah. Pesan Yusuf sederhana, namun dalam, ‘Hidup dan biarkan hidup’. Untuk keadilan dan demokrasi itu, dia berkali-kali memertaruhkan nyawanya.

Berikut cuplikan tutur Yusuf tentang 60 tahun menjadi anggota Ikhwanul Muslimin (IM) dan memediasi berbagai Negara dan faksi. Hampir di tiap peristiwa besar dunia Islam, Yusuf berada di belakang layar, memastikan pilihan yang diambil, yang minimal menumpahkan darah.
“Semua tugas mediasi saya terima dari Mursyid’ Am,” jelasnya lugas. Tinggal berpindah negara setelah keluar dari penjara dan menjauh dari represi rezim Jamal Abdul Nasser yang menyesakkan, Yusuf membangun jaringan bisnis yang terangkai dari Eropa sampai Afrika dan Asia.

Prinsipnya, tugas mediasi untuk Allah. Bisnis hal terpisah. Walau penguasa Yaman menawarkan 5% keuntungan Bank Islam untuk Yusuf karena dia baru saja memediasi Yaman dengan Arab Saudi terkait perbatasan, Yusuf menolak.

“Saya mengeluarkan puluhan ribu dollar untuk mendapatkan dokumen asli dan resmi terkait perbatasan Arab Saudi dan Yaman. Dari kantong sendiri. Mediasi ini biar Allah yang membayar,” jelasnya.

Balada Itsar di Trans Jakarta



Bismillah, beberapa hari yang lalu sekembalinya dari Jakarta menuju Jatinangor seperti biasa, gw memilih trans Jakarta sebagai kendaraan yang akan mengantar menuju shelter bus prima jasa. Jarak yang ditempuh menuju halte BKN dari halet Tanjung Priok kalo gak macet menghabiskan waktu 1 jam, lebih2kalo macet bisa sampai 2 jam... Hari itu sudah siang, pukul 14.00 kurang lebihnya, beruntung saat memasuki bus trans jakarta masih mendapati kursi kosong, maka gw bisa duduk tenang. Kenapa gw sebut beruntung? Karena gw termasuk dalam kategori yang sulit menjaga keseimbangan badan jika harus berdiri dalam kendaraan, terlebih gw emang gampang mabuk kendaraan khususnya pada mobil. Maka, mendapatkan tempat duduk adalah suatu keindahan tersendiri karena artinya gw bisa tidur karena hari sebelumnya, gw juga kurang enak badan....

Namun, dihalte berikutnya bis mulai penuh terdapat 2 orang tua yang gak mendapatkan tempat duduk, kasihan dalam hati, tapi menjaga diri sendiri supaya gak ambruk (memilih duduk di lantai bus) prosentase keberhasilannya mungkin gak lebih dari 50% lebih sering mual dan pusing, dan ngerepotin orang lain... krik....payah banget gw emang kalo pake angkutan umum.... berpikirlah panjang... 15 menit mungkin, sampai akhirnya tiba2gw teringat kisah itsar sahabat rasulullah saat perang yang memilih itsar (mendahulukan saudaranya) saat diberi air minum, dan menjawab, "berikan pada saudaraku yang disebelah, dia lebih membutuhkan." Saat dihantarkan ke orang yang dituju pun, jawabannya sama, "berikan pada saudaraku yang disebelah, dia lebih membutuhkan.", begitupun dengan yang ketiga, "berikan pada saudaraku yang disebelah, dia lebih membutuhkan." Hingga akhirnya kembali pada orang yang pertama dan didapati telah meningga, begitu seterusnya hingga yang ketiga.... Itulah contoh sebaik2itsar... Kalaulah mau menyangkal itu hanya ada jaman rasul, maka Yusuf Nada pernah mengisahkan pengalamannya semasa di Penjara yaitu

Jumat, 24 April 2015

Cita-cita dan melankolisme


Bismillah, gw pernah uji coba ke beberapa teman terdekat gw, percayakah mereka kalo gw seorang melankolis? Pantaskah gw menjadi seorang melankolis?

Hasilnya, sebagian tertawa terbahak dengan pertanyaan gw, sebagian percaya tapi di sisi lain gw dianggap gak pantas berkarakter melankolis. Intinya sebagian besar mereka gak percaya.... Well, karena yang dijadikan uji sample adalah teman sekampus gw, maka wajar mereka gak percaya. Mengingat gw dengan sadar sedari awal kuliah berhubung gw kuliah di Fikom dengan segala hingar bingarnya yang terkadang membuat diri yakin mahasiswa yang kuliah di Fikom secara lingkungan membuat karakter sanguinis menjadi dominan. Maka, karakter koleris melankolis, akan sangat sulit untuk diterima, maka gw berujar di tahun2berikutnya kalo mau bertahan di fikom unpad, jadilah sanguinis karena lingkungan ini lebih mudah untuk menerima karakter itu dari pada yang lain, meski hanya ciptaan, basa-basi atau sopan santun.


Senin, 16 Februari 2015

Penghianat!

Bismillah, tulisan ini terinspirasi dari film pinochio, drama korea yang mengisahkan kehidupan reporter. Seperti yang kita tahu bahwa reporter memiliki kewajiban untuk menyampaikan kebenaran. Bahkan, jika dalam prinsip komunikasi ada dimensi hubungan dan dimensi isi, maka yang harus didahulukan adalah dimensi isi. Maka, selayaknya takdir memang berjalan, yang namanya kebenaran akan selalu bergesekan dengan kesalahan. Ada banyak jenis kesalahan didunia ini, tapi tak sedikit pula orang yang memperbaiki diri. Maka bersyukurlah orang yang bisa memperbaiki diri, atau dalam islam, kita diajarkan untuk bertobat hingga Allah memberi nama salah satu surat dalam kitab sucinya At-Taubah dan buat saya itu hal yang hebat.