Jumat, 22 Januari 2016

Inikah namanya cinta?


Bismillah, tema cinta akhir-akhir ini udah menjadi pokok pembicaraan manusia akhir-akhir ini melampai perbedaan ras, suku, budaya, usia, dan segala macam perbedaan yang dulu menjadi pencetus konflik. Cinta yang dirangkum dalam 2 suku kata itu bahkan kisahnya diagungkan, kemudian diabadikan, diceritakan kembali, dipuji, diagungkan, dan disyiarkan keberadaannya dengan berbagai media. Tengok saja, tema cinta telah membanjiri media baik lewat film, komik, buku, novel, filsafat, sejarah, dll. Banyak orang mencoba menerjemahkannya dengan versinya sendiri. Banyak pula orang yang bertanya-tanya tentang  cinta. Bahkan hari ini oleh seorang kondang Indonesia yang maaf saya lupa namanya, dikatakan bahwa cinta telah menjadi sesembahan yang baru bagi umat manusia. Gak kalah serem juga, bahkan dengan meminjam istilah bahwa cinta itu merupakan sebuah fitrah yang tak dapat ditolak, cinta pulalah yang jadi tameng para LGBT untuk mensahkan perilakunya.

Namun, apa sih sebenernya cinta yang katanya lahir dari fitrah itu sendiri?
Semua tentu tau, bahwa cinta rupanya adalah berupa perasaan. Sayangnya, meski kita semua mengimani bahwa Al Qur'an merupakan penjelas berbagai pertanyaan manusia, sangat sedikit yang mengambil Al Qur'an sebagai rujukan dalam upaya menemukan jawaban dari pertanyaannya. Padahal Al Qur'an pun menjelaskan mengenai ciri-ciri cinta yang tak mesti berupa cinta kepada Allah saja, tapi juga yang selain-Nya. Nah, berikut ciri-cirinya:

  1. Selalu mengingat-ingat, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebutkan nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal." (Q.S. 8:2) yang ciri-ciri pertama ini intinya adalah jika nama yang dicintainya disebut, maka gemetarlah hatinya, dan jika mendapatkan pesan dari yang dicintainya maka bertambahlah kecintaannya.
  2. Mengagumi, "Segala Puji Bagi Allah." (Al fatihah:1/2 sesuai mazahab masing2 ) yap, siapa/apa pun yang kita cintai adalah apa-apa yang selalu kita puji-puji.
  3. Ridha/Rela, 
  4. Siap berkorban, "Dan diantara manusia ada yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridhaan Allah. Dan Allah maha penyantun terhadap hamba-Nya." (Q.S. 2:207) 
  5. Takut, "Maka kami kabulkan (doa)nya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan kami jadikan istrinya (dapat mengandung). Sungguh, mereka selalu bersegera dalam mengerjakan kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami." (Q.S. 21:90)
  6. Mengaharap (Q.S. 21:90)
  7. Menaati, "Barang siapa menaati Rasul (Muhammad) maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan barangsiapa berpaling (dari ketaatan itu) maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka." (Q.S. 4:80)
Nah, dari paparan diatas jelaskan gimana si perasaan cinta itu. Jadi, kalo ngerasa demikian terhadap sesuatu maka bisa dipastikan itu cinta. Perasaan cinta ini bisa berupa cinta kepada Allah atau cinta kepada selain-Nya.

Tapi, gimana si hakikat cinta menurut Islam?
Hakikat cinta bisa dibagi 2, yaitu

  1. Cinta yang mengikuti syariat yang dasarnya adalah iman hal ini dipaparkan dalam Q.S. 3:15, 52:21, 3:170)
  2. Cinta yang tidak mengikuti syariat yang dasarnya adalah syahwat dipaparkan dalam Q.S. 3.14, 80:34-37, 43:67)
Terus, tapi kan banyak yang kita cintai selain Allah, misal kita juga mencintai orang tua kita, barang kesyangan kita, dst. Atau seinget gw ada sebuah kisah tentang Ali bin abi thalib dengan anaknya Hasan. Hasan bertanya, "Wahai ayahku, engkau mengaku mencintai Allah, mencitai rasulullah, mencintai ibuku, mencintaiku, mencintai umat muslim, dst. Bagaimana mungkin hati yang cuma 1 itu mampu mencinta sebanyak itu?" Kemudian Ali bin Abi Thalib menjelaskan," Mencintai Allah itu seperti mendapatkan sumber mata air cinta, yang darinya mampu mengalir menuju cinta yang lain dengan arus yang benar, sehingga semakin besar cinta kita kepada Allah maka semakin besar pula air yang kita peroleh untuk mencintai yang lain." (redaksi kalimat disesuaikan dengan ingatan gw yang masih banyak khilafnya)

At least, dari kisah ini setidaknya kita paham bahwa banyaknya cinta, selama sumber cinta kita dari Allah dan karena Allah maka tidak akan menjadi penghalang bagi cinta yang lain, bahkan dengan mengambil sumber cinta dari Allah justru kita mampu merawat dan meletakkan cinta pada porsi yang diridhai Allah. Maka cinta pun memiliki tingkatannya sendiri, yaitu:

  1. Cinta yang menghamba - hanya dengan Allah- untuk menyembah dan mengabdikan diri (Q.S. 2:21)
  2. Mesra -dengan Rasulullah dan Islam - untuk diikuti
  3. Rasa rindu - dengan kawan dan keluarga seperjuangan dalam memperjuangkan islam - untuk kasih sayang dan saling mencintai (Q.S. 48:29, 5:54-56)
  4. Curahan hati - untuk kaum muslimin umumnya - untuk persaudaraan islam 
  5. Rasa Simpati - pada manusia umumnya - untuk didakwahi
  6. Hubungan hati - hanya dengan benda-benda - untuk memanfaatkan
Dengan demikian, teraturlah perasaan kita, tanpa perlu mencampur adukkan banyak hal yang malah seringkali membuat para pencinta ini menjadi galau bahkan depresi karena cintanya tak seseuai dengan bimbingan Allah swt.

Kemudian, apasih yang dihasilkan cinta?

  1. Menghasilkan loyalitas
  • Mencintai siapa-siapa yang dicintai kekasih
  • Mencitai apa saja yang dicintai kekasih
2. Melepaskan diri (bara'):

  • Membenci siapa saja yang dibenci kekasih
  • membenci apa saja yang dibenci kekasih
Yap! Udah jelaskan apa itu cinta, gimana ciri-cirinya, gimana hakikatnya, dst.... Jadi, udah gak perlu kan nyari-nyari lagi tentang makna cinta disembarang tempat. Nah, jadi kira-kira siapa sih yang paling kamu cintai? :D

Sepercik tentang orientalisme.....


Yak, langsung aja, menurut buku gerakan keagamaan dan pemikiran yang ditulis oleh lembaga WAMY (World Assembly Muslim Youth) mengartikan bahwa:

Orientalisme adalah gelombang pemikiran yang mencerminkan berbagai studi ketimuran yang islami. Yang dijadikan obyek studi mencakup peradaban, agama, seni, sastra, bahasa, dan kebudayaannya. Gelombang pemikiran ini telah memberikan andil besar dalam membentuk persepsi Barat terhadap islam dan dunia islam. Caranya ialah dengan mengungkapkan kemunduran pola pikir dunia islam dalam rangka pertarungan peradaban antara timur (Islam) dengan Barat.

Sedang ust. Rahmat Abdullah dalam mukadimah Manhaj Haraki mengungkapkan bahwa, "Para orientalis mencoba menulis sejarah Rasul dan menampilkan dalam bentuk ilmiah sesuai dengan selera mereka. Banyak diantara mereka menutup mata terhadap unsur harakah (dakwah dan jihad) yang menjadi inti perjalanan hidup rasulullah. Memang terkadang ada pengakuan terhadap keberhasilan rasulullah, tetapi mereka berupaya mengesankannya sebagai suatu hasil kejeniusan, bukan semangat kenabian (risalah)."

*gegara ini gw penasaran gimana si isi buku fiqh jihad yang ketebalannya ngelebihin buku muqadimah ibnu khaldun gw, tapi muahaaal..... sediiih karna istilah jidah telah direkonstruksi ulang oleh media dengan sedemikian kasarnya hingga jauh dari makna aslinya yang mulia T__________T

Kamis, 21 Januari 2016

The Secret

Bismillah....
Di jaman terbuka seperti saat ini, untuk bisa menerima bahwa ada yang dirahasiakan dan disembunyikan bukanlah hal mudah. Bahkan, kerahasiaan seringkali dikonotasikan negatif seakan-akan sesuatu yang disembunyikan itu pastilah suatu hal yang buruk. Memang sih ada sebuah hadits riwayat Muslim yang isinya Nabi bersabda:
الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ ، وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ
Artinya: Kebaikan adalah akhlak yang baik. Sedang dosa adalah sesuatu yang membuat hati guncang dan bimbang dan kamu tidak suka orang lain mengetahuinya.
Tapi, kita juga perlu ingat bahwa, rasulullah pernah mengalami dakwah secara sembunyi-sembunyi. Hal yang menganggap bahwa sesuatu yang dirahasiakan itu adalah sesuatu yang buruk dan mencemaskan sayangnya tak hanya lahir dari mereka yang memusuhi dakwah islam. Buktinya seringkali bahkan kader dakwah sendiri merasa terburu-terburu, membuka informasi-informasi yang belum siap untuk diterima masyarakat luas kemudian justru bukannya membantu dakwah, malah menjadi bumerang bagi dakwah itu sendiri. Kerahasiaan ini sebenarnya sesederhana dari bagian strategi dalam upaya menjaga keberlangsungan dakwah islam itu sendiri. Bayangkan saja, seandainya kamu main catur misalnya, terus kamu mengatakan kepada lawanmu, aku mengambil langkah ini kemudian mau mengambil langkah itu dan selanjutnya. Menurutmu, pemain yang demikian akan menang? Ada pula kisah yang disampaikan dalam buku fiqh dakwah berupa:
Sebagian kaum muda bertanya: "Selama jihad itu merupakan fardhu, dan umat Islam telah berjanji menjual diri dan harta untuk Allah, kenapa tidak berjihad dan menyerahkan harta dan jiwa ke jalan Allah?"
Saya jawab:"Orang yang telah menjual diri dan hartanya untuk Allah baginya tidak berhak mengorbankan diri dan hartanya itu DI SEMBARANG WAKTU DAN AMAL SEKEHENDAKNYA, tetapi ia harus dikorbankan pada waktu dan amal usaha yang telah ditentukan oleh syariat islam. Dan Allahlah yang menentukan, yang mengarahkan pada waktu yang mana, dalam kerja apa, dan cara bagaimana harus menyerahkan jiwa dan harta. Apakah ditengah-tengah gangguan, tindasan, penyiksaan, kesabaran, dan ketahanan ataupun di tengah-tengah peperangan, jihad dan perlawanan terhadap musuh-musuh. Kita tidak boleh didorong oleh sentimen dan perasaan melulu, atau terburu-buru ingin cepat memetik hasil serta buahnya. Lalu melakukan aktivitas, usaha-usaha dan pertarungan yang bersifat parsial, ketika mengorbankan jiwa dan harta tanpa membawa keuntungan dakwah yang nyata. Tindakan seperti itu bahkan akan membawa keuntungan dan menambah kekuatan para pendukung kebatilan.
Sehubungan dengan masalah ini orang berkata:"Orang yang telah menjual dirinya untuk Allah, baginya tidak berhak sebelum orang yang menyiksanya, Allahlah yang mempunyai hak atasnya, apakah dia mengampuninya ataupun menyiksanya."
Dari paparan tersebut dapat disimpulkan bahwa sebuah semangat juang yang tinggi tak akan pernah membuahkan hasil yang diinginkan jika tidak dibarengi dengan strategi yang matang. Padahal seharusnya cukuplah bagi kita sesama pejuang dakwah untuk selalu berhusnudzon pada pimpinan kita, misalnya anggota departemen A terhadap kepala departemennya, kadep terhadap ketumnya, dll. selama mereka masih menjadikan AL Qur'an dan As sunnah sebagai pedoman langkahnya, seandainya pun khilaf maka cukuplah saling mengingatkan dalam kebaikan kemudian luruskan lagi barisan dan rapatkan shaf. Sebab sesungguhnya, dakwah ini milik Allah bukan milik kita, Allahlah yang memilih siapa-siapa yang menjadi pejuangnya, bukan kadep, bukan ketua. Maka Allahlah sebaik-baik penjaga dakwah ini, tak ada urusan berapa lama seseorang telah berkecimpung di jalan dakwah kemudian kita terjemahkan begitu saja bahwa ia telah lebih bertakwa dibanding seseorang yang baru memperbaiki bacaan Al Qur'annya dengan tulus di usia yang bukan lagi usianya orang belajar. Tak ada urusan anak seorang dai pasti menjadi dai seluar biasa orang tuanya. Karena dakwah ini, hidayah ini, adalah milik Allah. Hanya saja, jikapun lebih didahulukan seseorang itu dipilih karena kualitas dirinya yang mendapat dukungan dakwah dari keluarga maka ia telah memenuhi tujuan-tujuan besar dalam fungsi keluarga(lengkapnya: membangun keluarga). Maka:
"Sebenarnya Allah, Dia-lah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar." (Al Hujurat:17)
Padahal sebenarnya, fase rahasia dakwah rasulullah pun tak kemudian serta merta segalanya dirahasiakan. Karena sejak awal setelah diangkat menjadi rasul melalui turunnya surat Al Mudatsir:1-4, tugas pertama muhammad saw adalah menyeru terhadap kaumnya, yaitu:
"Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Rabbmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah." (Al Mudatsir:1-4)
Kemudian ayat yang selanjutnya turun adalah:
"Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik." (Al Hijr:94) 
"Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekat." (Asy syura:214)
Pun kita ingat betul bahwa rasulullah telah mengumumkan terhadap kaum kerabatnya dengan jaminan reputasinya sebagai Al Amin (yang terpercaya) dengan mengatakan bahwa sesungguhnya pemimpin tidak akan mendustai keluarganya dan menyatakan mengenai dirinya bahwa dirinya adalah utusan Allah yang bertugas untuk memberi peringatan dan juga mengajak manusia untuk beriman hanya kepada Allah Yang Maha Esa serta adanya hari pembalasan. Nilai-nilai ini merupakan nilai dasar bahkan misi utama dakwah islam yang tak pernah rasulullah sembunyikan sedikitpun.

Jika demikian, apakah yang perlu dirahasiakan? Pada masa islam masih lemah, penganutnya sedikit, dan bahkan banyak muslim yang berasal dari golongan yang lemah bahkan budak dengan kondisi keimanan yang masih tipis, maka merahasiakan siapa-siapa yang telah masuk islam dan dimana proses pembinaannya merupakan hal yang urgent (penting) demi menjaga keberlangsungan dakwah dan mengamankan saudara seiman dari gangguan yang belum mampu dipikul oleh jamaah islam masa itu. Fase ini merupakan bagian dari strategi rasulullah.

Cukuplah bagi kita untuk mampu berhusnudzon dengan mengingat bahwa dakwah ini milik Allah, maka siapa-siapa yang menginginkan selain keridhoan dari Allah biarkan Allah lah yang menentukan balasannya dan kemudian sesungguhnya mudah bagi Allah untuk menggantikan mereka dengan golongan yang lebih baik.
"Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan bathil; ada pun buih itu, akan hilang sebagai suatu yang tidak ada harganya; ada pun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi; demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan." (Ar-Ra'ad:17)
Dalam risalah pergerakan telah dipaparkan bahwa dakwah memiliki sifat:
  1. Keterusterangan
  2. Kesucian, ianya bersih dari ambisi pribadi, bersih dari kepentingan dunia, dan bersih dari hawa nafsu. Ia terus berlalu menapaki jalan panjang kebenaran yang digariskan ALlah swt dalam firmannya,"Katakanlah, inilah jalan(agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada jalan Allah dengan hujah yang nyata.'Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik." (Yusuf:108)
  3. Kasih Sayang.
  4. Semua keutamaan hanyalah milik Allah
Maka seharusnya, cukuplah bagi kita untuk menjadikan pemahaman ini sebagai bahan kita untuk mampu berhusnudzon terhadap kerahasiaan yang merupakan strategi dakwah ini. Dan biarkan Allah sebagai pemilik dari dakwah inilah yang jadi penjamin dan penjaganya. Dan biarkanlah segalanya indah pada waktunya dan kepada Allahlah kita berserah diri.

Yuk atur-atur kondisi kantong kita...


Bismillah.... keuangan atau ekonomi atau silat perduitan sekarang udah jadi sorotan tersendiri dan diulas tiada henti. Bahkan hal ini hampir-hampir menyentuh segala aspek pertimbangan kita atas setiap hal. Contohnya aja mau sekolah nengok kantong, mau jalan-jalan nengok kantong, mau makan nengok kantong, mau milih kerjaan nengok kemungkinan seberapa penuh kantong keisi, bahkan nyari jodoh juga akhir-akhir ini udah mulai marak orang-orang yang mempertimbangkan berapa tebel kantongnya baru deh berlanjut, gak berenti disitu udah terbukti juga bahwa banyak kasus perceraian karena kantong, bahkan kalo ngomongin isi kantong bisa menyebabkan persaudaraan terputus, persahabatan kelaut, orang tua dan anak bertengkar....

Tentu aja gak semuanya demikian, hal ini gw paparkan cuma untuk menekankan bahwa hari ini uang yang ada dalam kantong udah menjadi suatu hal yang sangat mempengaruhi hidup manusia. Kondisi kaya gini dipaparkan oleh para ilmuwan dengan istilah materialisme yaitu sebuah  paham dalam filsafat yang menyatakan bahwa hal yang dapat dikatakan benar-benar ada adalah materi. Pada dasarnya semua hal terdiri atas materi dan semua fenomena adalah hasil interaksi material. Materi adalah satu-satunya substansi. Sehingga pertimbangan utamanya adalah sesuatu yang tampak, bisa dihitung, bisa dirasakan secara indrawi....

Padahal sebelumnya, indonesia dengan beragam suku dan budayanya memiliki begitu banyak perbedaan tentang apa yang penting dan tidak penting, tapi sekarang segalanya menjadi satu suara, "Yes! Money is a big matter." Hal ini sadar gak sadar, suka gak suka, kebetulan atau ketidak sengajaan seirama dengan protokolat zionisme yang mengatakan bahwa, " kekuasaan agama telah berakhir. Yang berkuasa sekarang hanyalah pemilik emas (uang) saja." Tentu bukan berarti saya menyarankan apa pun yang terjadi di muka bumi ini adalah salah mereka semua, nggaklaaah.... Nyatanya, diantara masyarakat demikian masih banyak yang setia dengan agamanya dan selalu berjuang menghidupkan agamanya dalam kehidupannya sehari-hari. Hanya saja, agar masalah ini tidak menjadi mimpi buruk di malam hari, dan hantu bergentayangan di siang bolong maka saya ingin berbagi hal-hal yang pernah disarankan untuk saya supaya bisa menangulanginya, supaya keuangan kita tetap ditangan kita, didalam kendali kita, bukan menjadi hantu yang merasuki hati kemudian merasukinya dan mengendalikan perasaan kita. Gimana caranya? Let's chek this out gan:

  1. Catat keuangan harian kita, dengan demikian kita tahu kemana aliran dana kita terjun tak terbendung yang gak berimbang sama mata air pendapan. Jangan sampai lebih besar pasak daripada tiang.
  2. Latih diri supaya bisa membedakan need (kebutuhan) dan want (keinginan). Buat yang gak biasa, tentu mengabaikan keinginan merupakan hal yang syusyahnye bikin pusing pala berbi, saran gw awalnya carilah substitusi dari setiap keinginan, misal mengganti es capucino cincau dengan es kopi biasa aja, apalagi yang udah biasa nongki-nongki di cafe elit, bisa juga mulai meningkatkan skill dengan membuat sendiri makanan yang kamu suka, misal gorengan diluar sana harganya udah 500an atau paling murah 2ribu dapet 3, believe it or not harga tepung sekilo berkualitas harganya cuma 8ribu rupiah, dan artinya dengan 8ribu rupiah kamu udah bisa bagi2gorengan ke tetangga sebelah dan gak melupakan kepuasan makan gorengan dengan selera kamu sendiri. Selain itu, kita juga harus menjaga kesadaran apakah kita ingin menjadi orang yang makan untuk hidup atau hidup untuk makan? Emang ada orang yang hidup untuk makan? ada dooonk... bahkan Allah menjelaskannya pada surat Muhammad:12, "Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-bianatang dan neraka adalah tempat tinggal mereka." Padahal yang kita butuhkan dalam hidup adalah kandungan makanan yang udah kita pelajari sejak SD, yaps karbohidrat, vitamin, mineral, protein, dll yang bendanya gak mesti yang harga puluhan, ratusan, bahkan jutaan rupiah. Dengan begitu, di akhir bulan kamu gak akan terkejut, dengan berkeluh keah," Ya Allah beri hamba uang...." dan menutup akhir bulanmu dengan aneka rasa luar biasa dengan bentuk yang itu-itu aja andalan para mahasiswa, yaitu.... jereng jeng jeng... MIE INSTAN, wkwkwkkwk...
  3. Kalo 2 saran di atas udah berhasil cobalah uji dirimu sendiri untuk mengaplikasikan metode manajemen ekonomi ala-ala nabi Yusuf. Iya nabi yusuf yang itu, yang tampan menawan.... Tapi, jangan cuma mengingat ketampanannya aja yang sebenarnya justru itu merupakan ujian dari Allah. Kalian harus tahu juga bahwa nabi Yusuf diangkat oleh raja mesir sebagai bendahara kerajaan setelah berhasil menafsirkan mimpi raja. Hal ini tertuang dalam Al Qur'an surat Yusuf:46-49 yaitu, "Yusuf, wahai orang yang sangat dipercaya! Terangkanlah kepada kami (takwil mimpi) tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk yang dimakan oleh tujug (ekor sapi betina) yang kurus, tujuh tangkai (gandum) yang hijau dan (tujuh tangkai) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahui. Dia yusuf berkata,'Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun berturut-turut (sebagaimana biasa); kemudian apayang kamu tuai hendaklah kamu biarkan ditangkainya kecuali SEDIKIT UNTUK KAMU MAKAN.' Kemudian setelah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikitdari apa (bibit gandum) yang kamu simpan."
Pada suatu majelis yang pernah gw datangi diterangkan bahwa kenapa yang disarankan untuk dimakan hanya sedikit, bukan setengahnya aja? Padahal lamanya sama, jadi jika dibagi 2 hasil panen harusnya cukup. Dalam ekonomi kebutuhan hal ini tidak bisa sesederhana hitungan matematika. Dalam hitungan ekonomi, kita harus melihat kebutuhan di masa depan akan menjadi lebih banyak, misalnya hari ini kita masih single, tentu fokus kebutuhan kita hanyalah untuk mencukupi kebutuhan pribadi saja, tapi di masa depan, tidak bisa demikian, karena 7 tahun yang akan datang tanggungan kita akan bertambah dari anggota baru hidup kita (suami/istri beserta anak, dll) bahkan harga yang terus melonjak. Maka, saving (tabungan) seharusnya lebih besar daripada konsumsi. Sehingga kita gak terlalu bermasalah saat mendapat tanggungan baru atau tiba-tiba mengalami masa krisis ekonomi. Jadi, teori ini gak cuma berlaku untuk mengatur keuangan negara, tapi juga berlaku untuk mengatur keuangan pribadi. Mengingat dalam bukunya Robert T. Kiyosaki seorang penasihat keuangan (gw gak terlalu menyarankan buat mengikuti segala tekniknya, karena beberapa hal ada yang bertentang dengan aturan islam) menyatakan bahwa seseorang dalam sepanjang hayatnya paling tidak mengalami 2 kali krisis ekonomi. Apalagi seandainya kita mengingat pola periode krisis ekonomi yang semakin cepat pola tahunnya. 

Namun, meski tampaknya sulit, atau memusingkan sebenernya Allah udah bilang kok bahwa setiap kita pasti mendapatkan beberapa ujian, yaitu:
"Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, dan kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (Al Baqarah;155)
Jadi, saat gini yang mesti kita lakukan adalah bersabar dalam artian bertawakal kepada Allah dan berjuang semaksimal mungkin termasuk melatih diri kita dari sekarang melalui ilmu dan mencoba mengamalkan ilmu yang kita punya. See you guys... semoga bermanfaat :)

Rabu, 20 Januari 2016

Ngapain sih membangun keluarga?


Bismillah, serem yak judulnya? Tenang, gw gak sedang membicarakan tentang seorang feminis gelombang 1 ataupun gelombang 2 yang merasa perempuan direndahkan oleh nilai dan norma masyarakat yang diwujudkan dalam pranata sosial. Duh, ngomong apa si gw? Wkwkwk.... Gini, gw sendiri termasuk seorang anak yang dibesarkan oleh budaya patriarki yang sangat kental, which means bahwa mau sekeren apa pun perempuan maka ia berkewajiban untuk bisa menjadi seorang ahli dalam 3 hal. Apakah hal itu? Yap, se-indonesia raya pasti tau tentang istilah sumur, dapur, kasur. Ada banyak kondisi dan masalah keluarga yang ada di Indonesia, bukan hanya masalah peran perempuan dalam porsi rumah tangga yang masih terus jadi perbincangan. Tapi, jauh sebelum itu terjadi, seharusnya ada pemahaman bersama tentang apa itu keluarga? Bagaimana tujuannya? Bagaimana hak dan kewajiban masing-masing anggota keluarga itu? dst....

Bagi seorang muslim, masalah keluarga ini mendapatkan lampu sorot yang sangat tajam, hingga nyaris bab keluarga menjadi salah satu bab yang mendapatkan penjelasan yang paling eksplisit dan jelas. Tengok saja, masalah nikah, aurat, waris, suami-istri, anak, dll. merupakan bagian dari ayat al Qur'an yang jelas dalam pemilihan katanya. Kenapa sih keluarga mendapatkan porsian sepenting itu?

Selain segala aturan syariat tersebut, dakwah kepada keluarga dekat merupakan pembuka dari pintu dakwah selanjutnya setelah mendakwahi diri sendiri maupun orang-orang kepercayaan kita. Melalui merekalah kemudian fase dakwah ditentukan. Dan sikap merekalah yang kemudian mampu menjadi penentu gerak dakwah seseorang, apakah kemudian keluarga dan kerabatnya memilih untuk jadi penghalang (seperti Abu Lahab bagi Muhammad saw), mengizinkan meski tidak mengimani (seperti Abu Thalib kepada Muhammad saw), ataupun menjadi pembela utama semacam Khadijah. Dari pranata sosial keluargalah kekuatan sosial seorang dai ditentukan. Seseorang yang dari keluarga yang kuat dan membela Islam tentu akan menjadi kekuatan dakwah yang hebat. Bahkan keluarga seperti inilah yang dicita-citakan Luth dalam menghadapi kaumnya.

Luth berkata, "Seandainya aku ada mempunyai kekuatan  (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)." (Hud:80)

Juga yang membuat orang-orang kafir Madyan untuk enggan menyerang Nabi Syu'aib:

"Mereka berkata, 'Hai syuaib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antar kami, kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwibawa.'"

Dari sini kita tahu, betapa besar pengaruh sebuah keluarga terhadap kualitas sosial dari anggotanya. Maka, pemahaman yang benar mengenai tujuan sebuah keluarga mestilah dimiliki oleh setiap orang yang belum, maupun yang telah menikah. Sehingga, ikatan yang berlandaskan atas sumpah kepada Allah ini bukanlah sebuah seremonial formalitas belaka apalagi dianggap sebagai akhir cerita seorang pejuang di jalan Allah dan menganggap kehidupan setelah menikah adalah milik mereka berdua saja kemudian happy ending macem dongeng disney yang dikuatkan oleh film2drama. Apalagi pernikahan yang dasarnya cinta buta... Cinta macam begini seandainya menikah gw sering mendapatkan cerita bahwa meski awalnya tampak sangat bahagia bagai film drama korea, namun baru muncul konflik saat terjadi masalah diantara salah satunya. Kemudian yang jadi pertimbangan biasanya adalah rasa gak enak ataupun takut ditinggalkan pasangan. Cinta yang macam ini sama sekali gak akan mampu untuk mengembangkan potensi semua anggota keluarga. Atau bahkan cintanya hanyalah semu belaka, imajinasi, dan jauh berbeda dengan bayangan sebelum menikah.

Maka, sebuah pernikahan yang merupakan setengah dari agama itu, tentunya harus membawa kepada tujuan agama kita, islam (selamat). Sebuah keluarga yang kokoh akarnya yaitu dijalankan atas dasar ibadah kepada Allah, mestilah punya cita-cita yang menjulang ke langit untuk kemudian bersama-sama menggapai ridha Allah. Maka jika sudah demikian, setiap anggota keluarga tahu dengan jelas apa yang dituju, dan bersama-sama saling menguatkan dengan segala upaya agar mencapai tujuan tersebut. Dr. Abdurahman Al Mursy Ramadhan juga mengatakan dalam karyanya Manhaj Ishlah bahwa, "Keluarga merupakan bagian dasar dari struktur bangunan masyarakat dan perbaikannya. Tidak hanya karena peran rumah tangga dan bagaimana seseorang mendukung proyek dakwah, tapi juga karena keluarga merupakan batu pijakan dasar yang orisinil yang tidak ada gantinya dalam membangun sebuah masyarakat, di mana masyarakat tidak akan baik kecuali dengan baiknya keluarga. Tidak pernah tergambar bahwa terdapat sebuah masyarakat muslim yang mulia yang menegakkan prinsip-prinsip islam, sementara rumah tangganya lemah, dan fondasi serta corak kehidupannya jauh dari manhaj Allah.

Dan meski cinta macam ini makin jarang dan sulit kita temui di hari ini, nyatanya masih ada saja yang memperjuangkannya. Tak hanya itu, bahkan ada sebuah kisah nyata yang punya sudut pandang yang gak biasa tentang dakwah, kualitas diri, dan keluarga. Read this out gan! kualitas-cinta-zainab-al-ghazali

Kualitas Cinta Zainab Al Ghazali


Zainab Al Ghazali:

Ketika kita sepakat untuk menikah dahulu, ingatkah kau akan apa yang aku katakan kepadamu tempoh hari?

Suami:

Tentu aku ingat, kau ajukan suatu syarat. Tetapi masalahnya sekarang aku khuatir atas keselamatanmu, sebab sekarang kau sedang berhadapan dengan sizalim itu (Jamal ‘Abdun Nasr).

Zainab Al Ghazali:

Aku masih ingat benar apa yang kuucapkan kepadamu, iaitu:

Kau sebagai calon suamiku harus tahu bahawa aku memikul sesuatu sepanjang hidupku. Kerana kau sudah menyatakan persetujuan untuk menikahiku, maka wajiblah aku untuk mengungkapkan kepadamu dengan harapan agar kau tidak akan bertanya lagi tentang hal itu. 

Tanggungjawab berat yang kupikul sekarang adalah kedudukanku selaku Ketua Umum Jama’ah Assayyidat Al-Muslimat. Dan aku tidak akan melangkah mundur atau keluar dari garis perjuangan ini. Aku yakin bahawa memang suatu waktu aku akan jauh melangkah di medan da’wah sehingga akan terasa bertentangan dengan kepentingan peribadimu dan kepentingan perniagaanmu bahkan dengan kepentingan kehidupan suami isteri. Dan apabila yang demikian itu sudah sampai pada posisi sebagai penghalang da’wah dan rintangan untuk mendirikan Negara Islam, nampaknya jalan kita sudah menjadi saling bersimpangan.

Pada waktu itu kau menundukkan kepalamu ke tanah. Ketika aku angkat mukamu , aku lihat air matamu tertahan pada kelopak matamu. Lalu kau berkata,  
“ Mintalah apa saja yang kau kehendaki!”. 

Namun aku tidak minta apa pun darimu, tidak juga mas kahwin yang biasa diminta calon isteri dari calon suami. Lalu kau berjanji bahawa kau tidak akan melarang aku untuk menunaikan tugas di jalan Allah….

Aku sudah bertekad akan mengesampingkan masalah perkahwinan dari hidupku, agar aku dapat memusatkan perhatian sepenuhnya ke bidang da’wah. Dan kini bukanlah maksudku untuk meminta kau turut serta dalam jihadku ini, melainkan adalah hakku kiranya untuk meminta syarat darimu agar kau tidak melarangku berjihad di jalan Allah. Dan apabila tanggungjawab meletakkan aku di barisan hadapan para mujahiddin, janganlah engkau bertanya kepadaku apa yang aku lakukan. 

Hendaknya antara kita dibina rasa saling percaya. Relakanlah isterimu ini yang sudah menyerahkan dirinya untuk jihad fisabilillah dan demi berdirinya Negara Islam yang sudah menjadi tekadku sejak berusia 18 tahun. Apabila kepentingan perkahwinan berseberangan dengan kepentingan da’wah kepada Allah, maka perkahwinan akan berhenti dan kepentingan da’wah akan terus berlanjut dalam semua kegiatan dan kehadiranku…” Apakah kau masih ingat?

Suami: 

Ya.

Zainab Al Ghazali: 

Kini aku mohon agar kau memenuhi janjimu itu. Jangan bertanya aku bertemu dengan siapa. Dan aku memohon dari Allah agar pahala jihad ini dibahagi antara kita berdua bila Dia berkenan menerima baik ‘amalku ini.
Aku menyedari bahawa memang hakmulah untuk memberikan perintah kepadaku untuk aku patuhi. Akan tetapi 
Allah swt dalam diriku lebih besar dari diri kita dan panggilanNya terasa lebih agung.

Sumber: http://sufiyyimraah.blogspot.co.id/2013/01/kata-kata-zainab-al-ghazali-kepada.html

Selasa, 19 Januari 2016

Kualitas Pribadi Ideal Seorang Da'i


Bismillah, cuma mau jadi pengingat aja, bahwa jauh sebelum muhammad dipilih menjadi rasul yang artinya punya kewajiban untuk mendakwahi kaumnya, muhammad telah disiapkan Allah dengan dididik menjadi seseorang dengan reputasi yang gemilang. Bahkan, selain memiliki 4 sifat utama seorang rasul, dari kaumnya yaitu orang-orang yang mengenalnya telah menggelarinya dengan sebutan Al Amin (yang terpercaya). Tentu itu bukanlah sebuah predikat yang mudah didapatkan, mengingat terkadang sengaja ataupun tidak kita menjadi kurang menjaga amanah dengan berbagai macam alasan, kadang beberapa dari kita bahkan mencari pembenaran dengan kalimat yaitu"Gpp, selama tujuannya baik." Padahal tujuan yang baik baru akan diterima kesempurnaan amalnya jika didertai dengan cara yang benar.

Oleh karena itu kecemerlangan reputasi Muhammad sudah tidak diragukan lagi. Melalui kecemerlangan reputasi pula salah satu dari Asabiqunal Awalun 'orang yang pertama masuk islam' ( Khadijah, Alibin Abu Thalib, Zaid bin Haritsah, dan Abu Bakar Ash Shidiq) menjalankan perintah Allah untuk berdakwah.... Dan terbukti ada 3 hal yang jika dimiliki seorang dai makaia akan lebih mudah untuk diterima. Reputasi yang dibangun atas 3 hal inilah yang menjadi penarik atas dakwah yang dibawa oleh Rasul dan para sahabatnya, nah apasih 3 hal ini? Yap 3 hal itu adalah:
1. Akhlak. Abu Bakar adalah seorang lelaki yang akrab dengan kaumnya, dicintai, dan disayangi.
2. Pengetahuan. Abu Bakar adalah seorang Quraisy yang paling mngerti atau tahu tentang nasab suku bangsa Quraisy serta masalah kebaikan atau keburukan yang ada pada suku ini.
3. Pekerjaan dan Status sosial. Abu Bakar dikenal sebagai pedagang yang memiliki akhlak mulia. Sering didatangi tokoh-tokoh kaumnya untuk dimintai pendapat mengenai banyak hal.

Maka, kualitas macam inilah yang kemudian perlu kita jadikan target saat kita sadar bahwa setiap muslim adalh da'i. Huft... susah yak, dari awal gw udah tau konsekuensi menjalankan islam ini. Tapi apa daya, gw inget banget waktu SMA secara gak sengaja di meja sekolah ada sebaris tulisan yang seinget gw begini bunyinya,"Jika Allah memutuskan untuk menjadi pelindungmu, maka siapakah yang mampu menghalangi jalanmu. Namun, jika Allah memilih mengabaikanmu, maka siapakah yang mampu jadi penolongmu?" Tulisan yang tertera pada secarik kertas seukuran stiker itu tetep teringat dalam kepala gw, Tentu kemudian hidup gw gak drastis kemudian mencari Allah atau sebagainya yang tampak heroik, enggak... gw menjalani hidup gw seperti biasa, mmmm... mungkin ada yang sedikit berubah dalam cara pandang gw, itu aja. Hahaha... Karena disaat ada orang yang mempercayai Al Qur'an karena kebenaran historik pada surat Ar Rum padahal kejadiannya beberapa tahun setelah ayat itu turun, atau disaat ada orang yang menyukai Al Qur'an karena keajaiban IPTEK yang terus terbukti padahal Al Quran turun 14 abad yang lalu, maka gw sesederhana menyukai Al Quran dimulai dari surat Al Fatihah. Surat yang semua orang hafal. Tapi buat gw, saat gw mengucapkan surat itu dengan sepenuh hati rasanya Allah sedang tersenyum, rasanya dipeluk, dituntun, disayang. Buat gw, segitu juga cukup.... Maka buat gw Allah-lah tempat perlindungan terbaik yang pernah gw rasa. Bukan karena gw disiksa kayak para sahabat yang super kece, nggak, gw sehat wal afiat. Hanya, kepala dan pikiran gw menjadi adem saat gw berpegang kepada Allah. Kemudian segala hal tentang dunia ini yang masih Allah rahasiakan terbuka sedikit demi sedikit. Jadi, saat Allah perintahkan buat berdakawah, yaudin gw sampaikan aja. Nah, setelah tau 3 hal tersebut maka demi memperoleh kasih sayang Allah gw sekarang melakukan uji coba terus menerus untuk bisa menjadi pribadi macem itu.